Hujan melanda
kota jember. Saat ini waktunya untuk pulang. Saya pulang menaiki angkot jurusan
Arjasa-Tawang Alun. Saat itu hanya ada dua penumpang yaitu saya dan seorang anak
wanita yang menggunakan seragam SMP sedang menaiki di kursi depan. Beberapa
saat kemudian terjadi percakapan.
Supir Angkot : Kamu kelas berapa dek?
Supir Angkot : Enak ya dek,
Adek bisa sekolah. Bapak tidak pernah sekolah. (Dengan Senyum)
Anak wanita : Tapi kok tau uang pak?
Supir Angkot : Itu naluri dek (Dengan bercanda), Kok malam dek
pulangnya?
Anak wanita : Iya pak tadi mengerjakan tugas biologi.
Supir Angkot : Biologinya nyampek pelajaran apa dek?
Anak wanita : Nyampek pelajaran plankton pak.
Supir Angkot : Owh tau bedanya fitoplankton dan zooplankton
dek?
Anak wanita : (Sedang memikirkan pertanyaan itu).
Supir Angkot : Kelamaan dek
(Menegur Anak tersebut). Fitoplankton itu yang kayak tumbuhan. Klo zooplankton yang kayak hewan.
Anak wanita : Ia pak, Kok tau? Katanya bapak gak sekolah.
Supir Angkot : Iya tau dek. Kalau matematikanya sampai
mana?
Anak wanita : Sampai Aljabar pak.
Supir Angkot : Siapa penemu Aljabar dek?
Anak wanita :Gak tau pak.
Supir Angkot : Penemunya itu al-Khwarizmi.
Anak wanita : Kok tau lagi pak? Katanya gak sekolah.
Supir Angkot : Iya tau lah dek.
Lalu mereka
melanjutkan pembicaraannya. Dan akupun turun dari angkot itu dan memberikan uang
lebih banyak dari sebelumnya. Aku tak tahu bahwa ia benar tidak sekolah, atau
seorang guru yang bekerja juga sebagai supir angkot, atau ia pernah bersekolah.
Namun aku memberi uang lebih karena aku menghargai bahwa meskipun ia supir
angkot dan sudah tua namun ia tidak melupakan ilmunya.
Satu pesan yang
saya dapat dari kisah ini.
“Jangan
pernah melupakan sebuah ilmu, karena semua ilmu itu penting” dan “Jangan
memandang seseorang dari pekerjaannya”.
Ini kisah nyata
yang saya alami beberapa hari kemarin.


0 komentar:
Posting Komentar
Boleh comment asal:
No Sara, No Pornografi, No Promosi.
Go Internet Sehat